Ronggeng Ciamis, Bergoyang di Tengah Perubahan Zaman

Kompas/Adhitya Ramadhan

Peronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat menari bersama penonton di halan balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2).
Di bawah naungan awan-gemawan musim kemarau di Kampung Kalenanyar, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tujuh penari itu menggoyang tubuh mereka di atas tanah becek yang ditaburi kapur. Para ronggeng menari tanpa alas kaki.

Udara pukul 10 pagi gerah saat suara gamelan dan tarian ronggeng mulai hadir utuh di halaman rumah Nasum (50), keluarga yang berhajat. Orang-orang berangsur berkumpul di rumah petani penyadap kelapa dari Desa Rawaapu Kecamatan Patimuan, Cilacap, itu yang tengah melaksanakan nadar khitan untuk anak lelakinya, Faisal (9).

"Walapun kaki berlepotan tanah, kami harus terus menari untuk menghormati tamu yang datang," ujar Tati Deviati (30), penari sekaligus peronggeng primadona dari Kelompok Seni Ibing Baranangsiang asal Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang, Ciamis, Jawa Barat.

Baranangsiang pada hari itu dapat job lintas provinsi, mereka ditanggap main di wilayah Cilacap bagian selatan di Jawa Tengah. Pertunjukan ronggeng desa dengan irama musiknya yang mengayun dan meletup-letup itu tetaplah sebuah magnet yang menarik perhatian para pria penggemar seni ngibing.

Kompas/Adhitya Ramadhan

Ronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat berdandan sebelum pentas di balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2).
Suatu malam-pertengahan Februari lalu-hujan deras juga tidak menghentikan antusiasme warga melihat pentas ronggeng di halaman Balai Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Ciamis selatan.

Satu per satu penggemar berat ronggeng datang ke lokasi pementasan setelah para peronggeng dan penabuh gamelan atau biasa disebut nayaga mulai memainkan gamelan sejak pukul 20.00.

Menurut Kepala Desa Sindangasih Ahmar, ibarat artis, ronggeng memiliki penggemar beratnya sendiri-sendiri. Mereka akan mengikuti ke mana pun ronggeng favoritnya tampil.

Ronggeng amen adalah seni tradisional yang berkembang di selatan Kabupaten Ciamis. Kesenian ini banyak ditemui di Kecamatan Banjarsari, Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Cijulang, hingga ke perbatasan Cilacap, Jawa Tengah, yang mayoritas bekerja sebagai petani dan bisa dua bahasa sekaligus, yakni Sunda dan Jawa ngapak. Kini sedikitnya ada 50 grup ronggeng amen di Ciamis selatan.

Seni ronggeng amen atau ronggeng kidul lahir di tengah-tengah kultur petani. Ciamis selatan adalah komunitas yang dominan dengan budaya bercocok tanam.

Dari Ciamis selatan hingga perbatasan Jawa Tengah, tempat ronggeng amen muncul dan berkembang selama ini, kawasan itu merupakan sentra produksi beras.

Setiap tahun daerah itu menjadi andalan Bulog dalam pengadaan beras. Area sawah di wilayah itu seluas 51.000 hektar dan pada tahun 2008 menghasilkan padi 601.000 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkandengan produksi tahun 2007 sebanyak 585.000 ton.

Dahulu kala ronggeng kerap dimainkan sebagai bagian dari "ritual" syukuran masyarakat agraris atas berhasilnya panen raya padi dan selusin rangkaian upacara lain.

Bahkan, menurut penyair Sunda, Godi Suwarna, dulu ronggeng dimainkan pada siang hari di tengah sawah, untuk menemani para petani yang sedang memanen padi.

Pemimpin Kelompok Ronggeng Baranangsiang, R Devi Setia Wiguna (40), yang juga suami dari Tati Deviati, sang ronggeng, adalah seorang petani sekaligus pedagang turun-temurun. Sawah seluas 100 bata (1 bata setara dengan 14 meter persegi) warisan orangtuanya di Padaherang ia garap sendiri.

Para nayaga yang menjadi anggota kelompok seni ini pun mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani.

Ketika cuaca sulit diprediksi, hama menyerang, dan lahan sawah tidak bisa diandalkan untuk hidup, mereka pun kian mengandalkan panggilan pentas ronggeng untuk menghidupi keluarga.

Saat ini sudah jarang ronggeng dipentaskan untuk merayakan suksesnya panen. Pesta pernikahan atau khitanan pun kemudian biasa memanggil ronggeng untuk hiburannya.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa memanggil grup ronggeng amen. Tarif sekali pentas sehari semalam sekitar Rp 3,5 juta, bukanlah angka yang kecil bagi petani. Hanya warga kelas sosial ekonomi mapan yang mampu menghadirkan ronggeng dengan tarif sebesar itu.

Jika seorang petani biasa, atau penyadap nira kelapa, ingin memanggil grup ronggeng, mereka harus menyiapkan uang sesuai tarif yang dipatok sejak jauh hari. Tatkala ronggeng dipentaskan, status sosial keluarga hajat pun mulai terangkat.

Ronggeng amen merupakan turunan dari ronggeng gunung, seni tradisional buhun (kuno) dari pegunungan di selatan Ciamis, yang terkenal dengan seni ketuk tilunya. Namun, ronggeng gunung yang hanya diiringi kendang dan gong ini masa kejayaannya mulai pudar tergerus orkes dangdut dan organ tunggal. Tetapi kita berharap kesenian ini tetap mampu bertahan, meskipun berat.(Kompas Dedi Muhtadi dan Adhitya Ramadhan)

Leave a respond

Posting Komentar