Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali (tabu), untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.
...
Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 23 Mei 1956. Mulai mengarang puisi dan prosa dalam bahasa sunda sejak tahun 1976 saat ia masih duduk sebagai mahasiswa IKIP. Pernah ikut bermain, menyutradarai, dan menulis lakon, antara lain dalam Burung-burung Hitam, Orang-orang Kelam, Gaok-Gaok Geblek dan Gor-Gar
Selain mengarang, ia juga suka bermain drama sejak kecil. Saat kuliah, ia mendirikan Teater IKP Bandung dan ikut bermain di Studiklub Teater Bandung. Penulis cerita pendek dalam bahasa Sunda ini sempat mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale dan International Poetry Festival Indonesia 2006.....
Dalam Islam ikatan antara satu orang dengan lainnya tidaklah semata dibangun atas dasar pertalian darah, melainkan oleh kesamaan akidah. Dari nasab yang berbeda mereka diperlakukan sebagai saudara, tetapi sebaliknya ikatan nasab menjadi tak memiliki kekuatan lantaran perbedaan keyakinan. Contoh untuk yang pertama adalah firman Allah surat Al Ahzab; 40:...
Tahun 1628 Sultan Agung menugaskan Dipati Ukur membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Namun Bahureksa tidak mengadakan hubungan dengan Dipati Ukur. Oleh karena itu Dipati Ukur tidak dapat melakukan perundingan dengan Bahureksa...
Nyi Raspi adalah Ronggeng Gunung, dan Ronggeng Gunung adalah Nyi Raspi, ungkapan tadi amat tepat untuk mengambarkan keidentikan Nyi Raspi dan Ronggeng Gunung demikian pula sebaliknya.Ronggeng Gunung mungkin dapat dikatakan berbeda dengan jenis tarian sunda lainnya yang cenderung mengolah gerakan kepala, tangan dan badan. Tarian Ronggeng Gunung lebih menumpukan gerakan pada kaki yang harus seirama, bergerak melingkari Nyi ronggeng sebagai porosnya dengan pola langkah tertentu. Sedangkan gerakan tangan atau tubuh lainnya cenderung bebas. ...
ONOM adalah sebangsa makhluk halus, berpusat di areal sebuah rawa seluas 947 ha, Rawa Onom namanya. Orang tak boleh gegabah membicarakannya sebab selalu saja ada akibatnya. Begitu kata penduduk Banjar. ONOM itu sebangsa makhluk halus. Orang Banjar, Kabupaten Ciamis, menyebutnya sebagai siluman.
Siluman punya arti tersendiri untuk sebutan kelompok makhluk halus. Kata Sanusi (50) penduduk Purwaharja, siluman dikenakan kepada makhluk halus yang dulunya berujud manusia biasa. Namun karena “Ngahiang” (menghilang), dan menjadi makhluk halus, maka disebutnya
sebagai siluman...
Suatu Kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai warga Banjarsari Ciamis ketika mendengar nama "Kang Utep" yang telah berhasil menjelajahi Nusantara dengan Motor Shogun-125nya. Kang Utep berhasil mengelilingi Nusantara pada tanggal 16 Agustus 2009 pukul 22.00 WIB di Jakarta. Saya sedikit telat memperoleh informasi ini, padahal sudah setahun yang lalu saya mengetahui bahwa Kang Utep sedang menjalankan misinya untuk mengelilingi Nusantara ini. Berikut adalah kutipan informasi yang saya dapatkan dari otomotifnetnet.com . Semoga dengan berhasilnya Kang Utep menjalankan misinya untuk mengelilingi Nusantara ini, bisa memacu Masyarakat Banjarsari yang lainnya untuk menggaungkan nama Banjarsari ke Pelosok Nusantara dengan tindakan yang positi..
KampungKutaadalahdusunadat yang masihbertahandiDesaKarangpaningal, KecamatanTambaksariKabupatenCiamis. Kampungadatinidihunimasyarakat yang dilandasikearifanlokal, denganmemegangbudayapamali (tabu), untukmenjagakeseimbanganalamdanterpeliharanyatatananhidupbermasyarakat. Salahsatu yang menonjoladalahdalamhalpelestarianhutan, sekaligusmempertahankankelestarianmata air danpohonarenuntuksumberkehidupanmereka.
Karena penghormatan yang tinggiterhadaphutan, wargaKampungKuta yang hendakmasukkekawasanhutantidakpernahmengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutantersebuttidaktercemardantetaplestari. Olehkarenaitu, kayu-kayubesarmasihterlihatkokohdiLeuweungGede. Selainitu, sumber air masihterjagadenganbaik.
Untukmenujukekampungtersebutjarak yang harusditempuhdarikotaKabupatenCiamissekitar 34 km menujukearahutara. DapatdicapaidenganmenggunakanmobilangkutanumumkeKecamatanRancah. SedangdariKecamatanRancahmenggunakan motor sewaanatauojeg, dengankondisijalanaspal yang berkelok, dantanjakan yang cukupcuram. JikamelaluiKecamatanTambaksaridapatmenggunakankendaraanumumatauojeg, dengankondisijalanserupa.
UpacaraAdatNyuguh
Sesuaiwarisanleluhur, acaranyuguhituharusdilakukandipinggirSungaiCijolang yang berbatasanlangsungdenganKabupatenCilacap, Jateng. Pernahsatukaliacaranyuguhtakdilaksanakan, tiba-tibaseluruhkampungmendapatmusibah. Padi yang siappanenrusakparah, sedangkansejumlahhewanternakditemuimatimenggelepar. Wargamenyakinikerusakanituterjadikarena “utusan” Padjadjaranitutidakdisuguhimakanan. Alhasilmereka pun mencarimakanansendiridengancaramerusakkampung.
AdapunperjalanankeSungaiCijolangsekitarlima kilometer. Kini, PakKuncen pun kembalimemulai ritual.
Doakembalidipanjatkansebelumwargamenyantapmakanan yang tersedia. Setelahberdoa, seluruhwargakemudianmenyantapmakanan yang dibawadarikampung. Makanankhas yang harusadasetiapupacara.
UpacaraAdatNyuguhinimerupakansuatuupacara ritual tradisionalAdatKampungKutaKec. TambaksariKabupatenCiamis yang selaludilaksanakanpadatanggal 25 shaparpadasetiaptahunnya.
SejarahKampungKutaCiamis
Kampung yang terletakdiDesaKarangpaningal, KecamatanTambaksari, berbatasandenganJawaTengahitudikenalsebagaiKampungadat. AdabeberapaversimengenaisejarahKampungKutaini. Menurutceritarakyatsetempat, asal-usulKampungKutaberkaitandenganberdirinyaKerajaanGaluh. Konon, padazamandahuluketikaPrabuGaluh yang bernama Ajar Sukaresi (dalamsumber lain, tokohiniadalahseorangpanditasakti) hendakmendirikanKerajaanGaluh, KampungKutadipilihuntukpusatkerajaankarenaletaknyastrategis.
PrabuGaluhmemerintahkankepadasemuarakyatnyauntukmengumpulkansemuakeperluanpembangunankeratonsepertikapurbahanbangunan, semen merahdaritanah yang dibakar, pandaibesi, dantukangpenyepuhperabotataubendapusaka. Keraton pun akhirnyaselesaidibuat. Namun, padasuatuketika, PrabuGaluhmenemukanlembah yang (Kuta) olehtebing yang dalamnyasekitar 75 m dilokasipembangunanpusatkerajaanitu. Atasmusyawarahdengan para punggawakerajaanlainnya, diputuskanlahbahwadaerahtersebuttidakcocokuntukdijadikanpusatkerajaan (menurutorangtua, “tidakmemenuhiPatangEwuDomas”).
Selanjutnya, merekaberkelanamencaritempat lain yang memenuhisyarat. PrabuGaluhmembawasekepaltanahdaribekaskeratonnyadiKutasebagaikenang-kenangan. Setelahmelakukanperjalananbeberapahari, PrabuGaluhdanrombongannyasampaidisuatutempat yang tinggi, lalumelihat-lihatkesekelilingtempatituuntukmenelitiapakahadatempat yang cocokuntukmembangunkerajaannya. Tempatiamelihat-lihatitusekarangbernama “Tenjolaya”. PrabuGaluhmelihatkearahbarat, laluterlihatlahadadaerahluasterhamparberupahutanrimba yang menghijau. Ia kemudianmelemparkansekepaltanah yang dibawanyadariKutakearahbaratdanjatuhdisuatutempat yang sekarangbernama “Kepel”. Tanah yang dilemparkantadisekarangmenjadisebidangsawah yang datardantanahnyaberwarnahitamsepertidengantanahdiKuta, sedangkantanahdisekitarnyaberwarnamerah. PrabuGaluhmelanjutkanperjalanannyasampaidisuatupedataran yang suburditepiSungaiCimunturdanSungaiCitanduy, lalumendirikankerajaandisana.
CeritaselanjutnyatentangPrabuGaluhtersebuthampirmiripdenganceritaCiungWanaradalamnaskahWawacanSajarahGaluh, bahwaPrabuGaluhkemudiandigantikanolehpatihnya, Aria Kebondan (dalamnaskahdisebut Ki Bondan). PrabuGaluhmenjadipertapadiGunungPadang. Menurutversitradisilisan, PrabuGaluhmeninggalkanduaorangistri, yaituDewiNaganingrumdanDewiPangrenyep. Saatitu, DewiNaganingrumsedangmengandung. KetikaDewiNaganingrummelahirkan, DewiPangrenyepmenukarbayinyadenganseekoranakanjing.BayiitukemudiandihanyutkankeSungaiCitanduy. MelihatDewiNaganingrumberanakseekoranjing, Aria Kebondan yang menjadirajadiGaluhmenjadimarah, lalumenyuruhLengsermembunuhnya. Namun, LengseritutidakmembunuhDewiNaganingrum, tetapimenyembunyikannyadi Kuta. Adapun bayi yang dibuang ke Sungai Citanduy itu kemudian ditemukan oleh Aki Bagalantrang di depan badodon (tempat menangkap ikan)-nya. Bayi itu dipungut dan diasuh oleh Aki Bagalantrang hingga remaja, lalu diberi nama Ciung Wanara. Tempat Aki Bagalantrang mengasuh bayi itu sekarang disebut daerah “Geger Sunten”, sekitar 6 km dari Kuta. Ciung Wanara kemudian merebut kembali Kerajaan Galuh dari Aria Kebondan melalui sabung ayam, sebagaimana yang diceritakan dalam naskah. Setelah Ciung Wanara menjadi raja, Lengser pun menjemput Dewi Naganingrum sehingga bisa berkumpul kembali dengan anaknya.
Di Kampung Kuta terdapat mitos tentang Tuan Batasela dan Aki Bumi. Diceritakan bahwa bekas kampong Galuh yang telah diterlantarkan selama beberapa lama ternyata menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Solo. Selanjutnya, masing-masing raja tersebut mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, adapun Raja Solo mengutus Tuan Batasela. Raja Cirebon berpesan kepada utusannya bahwa ia harus pergi ke Kuta, tetapi jika didahului oleh utusan dari Solo, ia tidak boleh memaksa jadi penjaga Kuta. Ia harus mengundurkan diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati. Pesan yang sama juga didapat oleh utusan dari Solo. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya masing-masing. Utusan dari Solo, Tuan Batasela, berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung, lalu beristirahat di sana selama satu malam. Jalan yang dilaluinya itu hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Penyeberangan itu diberi nama “Pongpet”. Adapun Aki Bumi dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui jalan curam, yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama “Regol”, sehingga tiba lebih dulu di Kampung Kuta. Sesampainya di sana, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban- penertiban, seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang disebut “Pamarakan”. Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim di kampung tempat ia bermalam, yang terletak di utara Kampung Kuta. Konon, utusan dari Solo itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi. Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa “Di kemudian hari, tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu.” Ternyata, hingga saat ini rakyat di Kampung itu memang tidak ada yang kaya. Karena menderita terus, Tuan Batasela kemudian bunuh diri dengan keris. Darah yang keluar dari luka Tuan Batasela berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut “Cibodas”. Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas. Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal, lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya. Tempat makam itu disebut “Pemakaman Aki Bumi”. Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan bahwa yang menjadi kuncen di Kampung Kuta berikutnya adalah orang-orang yang dipercayai oleh Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini.
Mitos-mitos yang dituturkan oleh tradisi lisan terkadang mempunyai keterkaitan dengan mitos yang diceritakan dalam sumber naskah. Keterkaitan itu kemudian menimbulkan pertanyaan bagi kita, apakah si penutur mitos yang bersumber pada naskah atau naskah yang ditulis berdasarkan penuturan. Jika dirujuk pada usianya, maka tradisi lisan telah ada sebelum tulisan muncul sehingga dapat diasumsikan bahwa naskah ditulis berdasarkan cerita yang dituturkan. Tradisi lisan yang terus ada hingga saat ini, seperti yang dituturkan oleh para kuncen atau tukang cerita, terdapat dua kemungkinan mengenai asal-usulnya. Pertama, tradisi lisan itu berdasarkan cerita naskah yang dibaca kemudian dituturkan kembali. Kedua, tradisi lisan itu memang belum pernah dituliskan dalam bentuk naskah, lalu dituturkan secara turun-temurun. Adanya perbedaan versi suatu cerita yang dituturkan dalam naskah dan tradisi lisan disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan sumber cerita, distorsi cerita karena pewarisan cerita yang turun-temurun memungkinkan terjadinya penambahan ataupun pengurangan isi cerita, dan adanya keinginan dari penutur cerita untuk mengedepankan peranan seorang tokoh ataupun berapologia atas kesalahan tokoh tersebut. Demikian pula dengan cerita tentang Kampung Kuta di atas. Ada beberapa bagian yang hampir mirip dengan cerita yang dikemukakan dalam naskah dan ada pula yang berbeda jalan ceritanya. Adapun mengenai kebenaran isi cerita atau mitos tersebut bukanlah suatu permasalahan. Setidaknya, mitos-mitos tersebut dihormati dan dipelihara oleh masyarakatnya. Lebih jauh, bukankah ilmu pengetahuan juga pada awalnya berkembang dari bentuk pemikiran mitis. Hingga saat ini, Kampung Kuta tetap dilestarikan sebagai kampung adat atau petilasan. Masyarakatnya masih memelihara dan melestarikan tradisi-tradisi leluhur mereka. Pantangan-pantangan pun dibuat untuk menjaga kelestarian tradisi itu, seperti larangan membuat rumah dari tembok dan memakai atap genteng, larangan mengubur mayat orang dewasa kecuali bayi kecil dan dalamnya pun tidak melebihi pangkal paha, larangan menggali sumur terlalu dalam, larangan mementaskan wayang, larangan meminum minuman keras, tidak boleh sombong atau menentang adat kuta, dan sebagainya.
Dengan masih bertahannya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang berada di Ciamis ini, sepatutnya harus kita banggakan, karena dengan adanya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang masih bertahan menunjukkan bahwai masih ada pelestari kebudayaan yang masih eksis hinga saat ini. Mari kita lestarikan warisan kebudayaan leluhur.....
Hiji waktu nu geus kaliwat dina riungan para tokoh Urang Sunda jeung sawatara anggota DPRD Prop. Jabar basa ngabahas “milih pigupernureun/wagup Prop. Jabar”, ti antara anu hadir aya nu nanyakeun ka anggota DPRD Prop. Jabar tea, saha jeung nu kumaha anu disebut SUNDA teh. Ti antara anggota DPRD Prop. Jabar nu aya harita saurang oge taya nu bisa nerangkeun kalawan jentre. Ieu kaaayan teh ngagambarkeun yen wawakil rayat Sunda teh dina buktina mah henteu apaleun kana saha jeung naon anu diwakilanana. Estu pikasediheun pisan. wawakil urang Sunda teu ngartieun kana saha jeung naon ari SUNDA teh.
Padahal upama eta anggota dewan teh daek leukeun jeung sok daek maca buku nu tumali jeung Sunda atawa Kabudayaan Sunda, tangtu bisa ngajawab kana eta pananya. Aya sawatara buku anu kudu dibaracana, tur saenyana henteu loba diantarana bae:
” Pandangan Hidup orang Sunda, karya tulis Dr. Yus Rusyana dkk. Depdikbud, 1988/1989. ” Kebudayaan Sunda. Dr. Edi S. Ekadjati, Dunia Pustaka Jaya, 1986. ” Sejarah Sunda I, Drs. R. Ma’mun Atmamihardja, Sumur Bandung 1956. ” Dangiang edisi 1/1999.
Tah dina eta buku bakal kaguar naon ari SUNDA.Tapi sigana boa-boa henteu ngan wungkul para wakil rayat anu jadi anggota DPRD Prop. Jabar bae nu can apal kana harti jeung ma’na kecap Sunda teh, teu mustahil karereanana urang Sunda oge can kungsi apal. Ku kituna mah atuda bongan bae di sakola-sakola boh anu formal boh non formal henteu kungsi diajarkeun SAJARAH SUNDA, (kajaba di lingkungan YPDM Pasundan jeung Yayasan Atikan Sunda) - Kacida pikasediheunana, ari sajarah karajaan-karajaan di Tatar Jawa, ti mimiti Erlangga tepi ka Sultan Hamengkubuwono X, urang kungsi diajar; diarapalkeun malah diujikeun, tapi ari sajarah karuhun urang pribadi kaluli-luli). Mangkaning ceuk Sajarahwan/Sosiolog ti Eropa, Miland Kundera, nyebutkeun, yen pikeun ngaleungitkeun hiji bangsa (seler bangsa), leungitkeun bae kareueus kana sajarahna pribadi. Tah kajadian ieu pisan anu ayeuna tumiba ka urang Sunda teh, kana sajarahna pribadi, jajauheun kana ngarasa reueus mah.
Nurutkeun pamanggihna para ahli nu ditataan di luhur ngeunaan saha ari Urang Sunda bisa dicindekkeun saperti ieu di handap. Hiji jelema dianggap URANG SUNDA lamun cumpon kana salasahiji pasaratanana, nyaeta:
1. Upama dirina ngarasa jadi urang Sunda. 2. Upama ku batur disebut yen manehna teh urang Sunda. 3. Upama indung jeung bapana asli, tulen, PITUIN urang Sunda. 4. Upama jelema anu sanajan indung bapana lain Urang Sunda, tapi tingkah laku, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena peresis saperti Urang Sunda.
Upama kitu ukuranana, nya atuh ayeuna mah gampang bae, kari urangna masing-masing bisa nyumponan salasahiji tina opat perkara di luhur. Upama dipedar leuwih jembar bisa dihartian kieu:
1. UPAMA DIRINA NGARASA JADI URANG SUNDA
Hiji jelema kakara boga rasa jadi urang Sunda, lamun inyana ngarasa yakin yen jiwana, hirup-huripna, lahir batinna, komo jeung turunan ti indung-bapana pituin urang Sunda. Pikeun miboga RASA jadi urang Sunda, nya kudu hirup di lingkungan anu NYUNDA (mibanda karakter Sunda), ngomong sapopoe basa Sunda, etika jeung etiket, budipekertina Nyunda, konsep hirupna (Visi jeung Misina) nangtung dina tatapakan Sunda. Jeung sauumur salawasna bajoang pikeun nanjeurkeun ajen inajen jeung perilaku anu Nyunda. Ngan anu sok dipikahariwang teh nyaeta lamun jadi Sunda anu heureut deuleu pondok lengkah, heureut ku sateukteuk, kurung batok. Nu kieu bakal jadi Sunda eklusif, tegesna bisa tigebrus kana etnosentris anu heureut, Jingoisme, Ubber Alls (ngarasa diri jadi seler bangsa anu pangunggulna). Karuhun Sunda geus mapagahan yen ulah jadi SUNDA ANU SARUBAK JAMANG, tapi kudu SUNDA ANU ANU SAAMPAR JAGAT (Jamang=baju).
2. UPAMA KU BATUR DISEBUT YEN MANEHNA TEH URANG SUNDA
Upama nurutkeun ukuran anu ieu, nu disebut Sunda atawa urang Sunda teh kumaha ceuk tetelahan ti batur. Ieu sipatna leuwih obyektif. Biasana pangna disebut kitu teh kulantaran indung-bapana urang Sunda, atawa dumeh cicing di tatar Sunda. Sok aya urang Sunda pribadi anu sigana era upama disebut urang Sunda ku batur teh da geuning upama aya nu nanya kieu: “Kamu orang Sunda yah?” Ari dijawabna teh ” Bukan saya mah Orang Indonesia “ Eta jawaban ngagambarkeun kateusadaran jeung henteu tumampi jadi urang Sunda (ieu patojaiah jeung eusina Ar.Ruum ayat 22). Saenyana kudu dibedakeun antara harti kecap BANGSA jeung harti kecap RAYAT (Rakyat). Ari “Bangsa” mah nuduhkeun kana sistem budaya (kultur jeung peradaban); ari “rayat (rakyat)” mah nuduhkeun kana cacahjiwa (penduduk) dicirian ku nomer KTP. Jadi kuduna ngajawab teh kieu: “Benar saya orang Sunda yang menjadi Rakyat Indonesia” - Kitu kuduna mah, ngan geus salah kaprah tea. Padahal ari nu salah mah kapan kudu dibebener deui, diomean.
3. UPAMA INDUNG BAPANA PITUIN URANG SUNDA
Kacida bagjana pisan jelema anu indung bapana terah Sunda pituin, komo upama jeung hirup huripna, campur gaul sapopoena dina tatapakan anu NYUNDA. Malah di urang mah aya kasebutna yen tujuh turnanana oge terah Sunda asli. Tapi sigana ari tepi ka tujuh turunan mah (bapa/indung, nini/aki, uyut, bao, janggawareng, canggah, udeg-udeg, kait siwur) mah jauh teuing. Sigana ku semet indung jeung bapa oge cukup. Anu penting mah bari jeung hirup hurip sapopoena katangar Nyunda. Sarta anu pangpentingna tina kahirupan anu Nyunda teh nyaeta di imah jeung di lingkunganana ngagunakeun BASA SUNDA pikeun alat komunikasina. - Di kota-kota nu aya di Tatar Sunda, hususna di Bandung, pangpangna anu hirup di kompleks perumahan geus kurang pisan kulawarga anu ngagunakeun basa Sunda di imahna -
4. UPAMA JELEMA ANU SANAJAN INDUNG BAPANA LAIN URANG SUNDA, TAPI TINGKAH LAKU, CARA MIKIR JEUNG HIRUP KUMBUH SAPOPOENA PERESIS SAPERTI URANG SUNDA
Ayeuna mah meureun nu disebut urang Sunda MUKIMIN. Disebut Mukimin teh pedah geus mukim (cicing, matuh) di tatar Sunda. Tapi sanajan kitu kudu dibarengan ku tingkah laku, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena ceples saperti urang Sunda. Can disebut Sunda Mukimin, upama ukur pedah cicing di tatar Sunda, tapi ari perilaku, pasipatan, ngomong, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena can saperti Urang Sunda.
Jadi teu bisa disebut Sunda Mukimin, upama imah-imahna dipager luhur tepi ka teu wawuh jeung tatangga, embung milu ngaronda, embung kerja bakti kajeun muruhkeun, embung jadi RT atawa RW, nyieun kelompok/komunitas anu ekslusif, tara milu upacara agustusan.
Saenyana di pakumbuhan Urang Sunda geus kaitung rea para mukimin anu kacida gede kanyaahna ka Ki Sunda, upamana bae:
” Dalang Apek Gunawijaya, eta teh dalang kahot meles urang Cina (ngaranna oge Apek kapan). Dalang Apek kawentar pisan dina taun opatpuluhan jeung limapuluhan mah. ” Bapa Sutisna Senjaya, tokoh ti organisasi Daya Sunda, hiji-hijina wakil GERPIS (Gerakan Pilihan Sunda dina Pemilu taun 1955) anu jadi wakil di Konstituante jaman Sukarno. Anjeunna wantun pidato dina sidang formal Konstituante ku BASA SUNDA, sarta mokalan ngadegkeun kalawarta Kudjang babarengan jeung Bp. R. Ema Bratakoesoema, Bp. Prof. Ir. R.Otong Kosasih. Ari bapa Sutisna Senjaya (Sutsen) teh wedalan Pekalongan alias tiang Jawi. ” Bapa Endang Saefuddin Anshari (Alm), terah Padang meles, tapi di mana wae, jeung iraha bae upama biantara teh sok ku basa Sunda bae. Tatakramana kacida nyundana (pupus taun 90-an).
Tangtu aya keneh Urang Sunda Mukimin anu upama dibandingkeun jeung urang Sunda Pituin oge jauh tangeh leuwih nyaahna ka Sunda. Ka para Sunda Mukimin anu saperti kieu, urang wajib ngajenan jeung mihormatna.
Minangka panutupna tulisan bagian ka-1 ieu, aya nu perlu pisan dipiinget ku urang sarerea, rek keur urang SUNDA PITUIN rek keur SUNDA MUKIMIN, yen ari pikeun kalungguhan Pupucuk Pamarentahan Masarakat Urang Sunda mah, aya nu kudu dicekel pageuh, nyaeta para pamingpin di unggal daerah (Propinsi, Kabupaten, Kota, Kacamatan, Desa), eta teh lain ngan ukur jadi PAMINGPIN STRUKTURAL FORMAL wungkul tapi oge jadi CICIREN (ICON) TI MASARAKAT ADAT SUNDA. Jadi kacindekanana pikeun pamingpin di Tatar Sunda mah kudu bisa nyumponan kana ukuran (kriteria) nomer 1, 2 jeung 3. Tapi upama kapaksa-kapaksa teuing mah henteu cumpon tilu pasaratan tea, dua pasaratan mah mutlak kudu digunakeun, nyaeta pasaratan no 1 (Ngarasa dirina teh Urang Sunda) jeung no 2 (Ku batur disebut manehna teh Urang Sunda). Hal ieu teh taya lian pikeun salasahiji tarekah geusan repeh rapih, lulus banglus, tata tengtrem karta raharjana Tatar Sunda jeung Bangsa Sunda sabage salasahiji ti masarakat rayat Indonesia. Upama nu dua ieu kacumponan, insya-Alloh moal marudah teuing batiniahna urang Sunda teh. Muga maphum bae ieu mah.
Dalam peta Pulau Jawa sekarang, dapat dikenali nama “Galuh” di berbagai tempat, baik sebagai kata yang berdiri sendiri maupun dirangkaikan dengan kata lain atau suku kata tambahan. Nama tempat ini umumnya terdapat di perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Barat, misalnya Galuh (Purbalingga), Galuh Timur (Bumiayu), Sirah Galuh (Cilacap), Segaluh dan Sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), Rajagaluh (Majalengka). Di Jawa Timur juga dikenal nama Hujung Galuh.
Dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan “Galuh” yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, maka menurut sejarawan W. J. van der Meulen, nama-nama itu kemungkinan besar merupakan perluasan ke sebelah timur dari wilayah yang sangat mungkin bersifat pusat asli daerah (kerajaan) Galuh, yaitu di sekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang).
Keberadaan Kerajaan Galuh merujuk kepada sumber-sumber sejarah yang sejaman dengan masa Kerajaan Galuh atau lebih mendekati jaman kerajaan Galuh (yang disebut sumber primer), yaitu naskah Sanghyan Siksa Kanda ng Karesian (ditulis tahun 1518 ketika Kerajaan Sunda masih berdiri) dan naskah Carita Parahiyangan (ditulis tahun 1580, setelah Kerajaan Sunda runtuh) dan, untuk abad 16-20, diperkuat dengan berita atau catatan yang dibuat oleh orang Portugis ataupun catatan VOC.
Pembuktian Historis
Untuk meneliti secara historis kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sejaman berupa prasasti. Ada beberapa prasasti yang memuat nama “Galuh”, meskipun tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa “kadatwan rahyangta I bhumi mataram ingwatu galuh”. Kemudian dalam sebuah piagam yang dikenal sebagai piagam Calcutta disebutkan bahwa “para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan barat; mereka dimusnahkan dalam tahun 1031.
Dalam prasasti yang letaknya lebih dekat dengan Jawa Barat, yaitu prasati yang terletak di halaman percandian gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang) yang berangka tahun 732, disebutkan bahwa “Sanjaya telah menggantikan raja sebelumnya yang bernama Sanna. Sanjaya adalah anak Sannaha, saudara perempuan Sanna”. Tampaknya isi prasasti ini ada hubungannya dengan naskah Carita Parahyangan. Naskah ini mengungkapkan bahwa raja Sena yang berkuasa di Galuh dikalahkan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu sang raja. Raja Sena dibuang ke Gunung Merapi bersama keluarganya, dan setelah dewasa Sanjaya berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora. Nama Galuh sebagai ibu kota disebut berkali-kali dalam naskah ini. Selain itu, nama-nama tempat yang disebutkan dalam naskah ini pada umumnya terletak di Jawa Barat bagian timur. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-8 Masehi pernah ada Raja Sanjaya yang berkuasa di Galuh.
Seperti diketahui, berdasarkan penelitian atas beberapa prasasti yang ditemukan di Jawa Barat, sejak berakhirnya Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-7, berdiri pusat kekuasaan yang dikenal sebagai Kerajaan Sunda. Pusat kerajaan ini berpindah-pindah dimulai dari Galuh, kemudian ke Pakuan Pajajaran, setelah itu ke Kawali dan berakhir di Pakuan Pajajaran (Bogor). Adanya kebiasaan di negara-negara Asia Tenggara untuk menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya, maka jika suatu sumber menyebut nama Kerajaan Galuh bisa berarti itu Kerajaan Sunda yang beribukota di Galuh.
Pada tahun 1595, setelah Kerajaan Sunda runtuh oleh Kesultanan Banten, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Dalam sumber-sumber Belanda, batas-batas Kerajaan Galuh yang jatuh ke tangan Mataram itu adalah: di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Citanduy, di sebelah utara berbatasan dengan Sumedang, di sebelah barat berbatasan dengan Gunung Galunggung, Sukapura, dan disebelah selatan dengan sungai Cijulang. Belanda tidak memasukkan beberapa daerah sebelah barat kali Brebes dan kali Serayu (yang menurut naskah Bujangga Manik merupakan wilayah Kerajaan Sunda) yang sekarang termasuk Jawa Tengah yaitu Majenang, Dayeuh Luhur, dan Pegadingan dimana hingga sekarang sebagian komunitasnya masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari.
Dalam perjanjian Mataram-Kompeni, 5 Oktober 1705, Mataram menyerahkan wilayah Cirebon dan Priangan-Cirebon (termasuk didalamnya Galuh) kepada VOC. Galuh diletakkan di bawah pengawasan Pangeran Aria Cirebon hingga tahun 1723.
Pada tahun 1802 Galuh menjadi kabupaten. Sejak tahun 1812 Galuh beribukota di Ciamis.
Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan kedalam Keresidenan Priangan dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis.
Dirangkum dari buku "Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat" tulisan Nina H. Lubis.
CIAMIS, (PRLM).- Angin puting beliung menerjang kawasan di tiga desa di Kec. Banjarsari, Ciamis, Rabu (11/11) sore. Akibatnya, tidak kurang dari 109 rumah warga rusak berat dan ringan, serta menelan kerugian yang tidak sedikit.
Desa yang diterjang angin puting beliung tersebut adalah Desa Sindangasih, Sindanghayu dan Purwasari, Kec. Banjarsari, Ciamis. "Akibat kejadian itu, kami terpaksa untuk sementara tinggal di terpal yang disediakan Kecamatan Banjarsari," kata Mamat (42), warga Desa Sindangsari kepada "PRLM", Kamis (12/11).
Menurut Miftahudin (48) warga RT 10/03 Dusun Pangarengan, Desa Sindangasih, angin puting beliung itu datang tidak disangka sebelumnya. Tiba-tiba saja muncul dan menghancurkan.
Ia mengatakan, sebelum angin itu datang, wilayahnya diguyur hujan cukup deras. Setelah itu, muncullah angin putting beliung yang besar. Begitu angin itu muncul, ia bersama anggota keluarganya berhamburan keluar rumah, untuk menyelamatkan diri. "Saat itu, genting dan asbes rumah saya beterbangan dan jatuh ke tanah. Saat itu juga, tiba-tiba pohon kelapa yang berada di belakang rumah roboh. Pohon itu kemudian menimpa atap dapur hingga dapur porak-poranda," katanya.
Sugi, pedang baso menambahkan, begitu angin itu datang, ia dan keluarganya berlarian ke luar rumah karena khawatir pohon di sekitar rumah tumbang. Dugaannya ternyata benar. Saat mereka sudah berada di luar rumah, pohon di sekitar rumahnya tumbang dan jatuh tepat di tengah-tengah rumahnya, hingga usuk rumahnya berantakan.
Camat Banjarsari Drs. Uga Yugaswara, MSi mengatakan, setelah dilakukan pendataan diketahui bahwa rumah yang rusak itu sebanyak 109 unit. Rumah yang paling banyak rusak, baik rusak berat dan ringan, berada di Desa Sindangsari, yakni sebanyak 104 rumah. Yang lainnya berada di Desa Purwasari 4 rumah, dan Sindanghayu, 1 rumah. Rumah itu rusak, umumnya karena tertimpa pohon tumbang.
"Untuk menghitung kerugian yang dialami warga, saya sedang menunggu laporan aparat desa yang masih melakukan pendataan. Sambil menunggu hasil pendataan, kami sudah memberikan bantuan tanggap darurat berupa terpal," katanya.
Di tempat terpisah, Kepala Desa Sindangasih Ahmar megatakan bahwa rumah warga yang roboh itu adalah milik Sugi (36), Edi (40), dan Miftahudin (45) warga RT 13/3 Dusun Pangarengan, serta Samingin (50) warga Dusun Cimentek.
Ahmar mengatakan, selain rumah, yang rusak di wilayahnya adalah bangunan tempat parkir di samping kantor desa, dan tower antene relay televisi. "Turut hancur juga, tempat praktek bidan dan masjid di Dusun Pangarengan," katanya.
Selain di Banjarsari, angin puting beliung juga menerjang Dusun Sindang Asih Desa Kujangsari Kec Langensari, Kota Banjar, Rabu sore. Namun akibat puting beliung di Langensari tidak separah di Banjarsari. Rumah yang rusak pun, sampai Kamis (12/11) tercatat hanya satu rumah, yakni milik Encum (60), warga RT 3 RW 5 Dusun Sindangasih Desa Kujangsari. Rumah Encum roboh setelah tertimpa pohon Sukun. (A-112/das)***
CIAMIS, TRIBUN - Tak reda dirundung malang. Itulah kini yang dialami warga Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Ciamis. Desa ini merupakan daerah yang cukup parah kerusakannya akibat guncangan gempa 7.3 SR pada Rabu (2/9). Belum lagi ratusan rumah yang rusak akibat gempa tersebut diperbaiki, desa tersebut, Rabu (11/11) sore, disapu angin puting beliung.
Puluhan rumah di Dusun Pangarengan porakporanda. Atap gentingnya beterbangan disambar angin puting beliung yang berlangsung selama 30 menit sejak pukul 15.00. Tenda?tenda pengungsian pun tak luput dari terpaan angin kencang yang memutar itu.
Warga berhamburan dari rumah masing?masing menyelamatkan diri meski harus basah kuyub. Menjelang magrib hujan lebat yang mengguyur belum kunjung reda.
"Di RT saya ini saja ada sembilan rumah yang rusak parah akibat angin puting beliung tadi. Di antaranya rumah Nana, Aman, Eman dan Ano. Rumah saya juga kena, hampir separuh atap gentengnya jatuh beterbangan. Sekarang lagi dipasang?pasang kembali dibantu warga secara gotong royong. Kalau tidak dipasang nanti malam mau tidur dimana," ujar Pian (40), warga Dusun Pangarengan RT 04/RW 01 Desa Sindangasih kepada Tribun, kemarin petang.
Menurutnya, mungkin karena masih trauma gempa, saat ada suara gemuruh warga berhamburan dari rumah masing?masing menyelamatkan diri. "Suasananya memang agak panik, saya juga panik, apalagi rumah saya sampai berderak?derak akibat disapu angina kencang. Saya takut rumah saya rubuh, karena akibat gempa kemarin menyisakan retak?retak," tutur Pian.
Camat Banjarsari Uga Yogaswara S.Sos MM mengakui adanya musibah angin puting beliung yang melanda Desa Sindangasih. "Untuk sementara kejadian baru diketahui di Desa Sindangasih, jumlah rumah yang rusak juga belum ada data pasti karena hujan masih turun jadi cukup sulit petugas untuk melakukan pendataan. Kejadian ini akan dilaporkan di Rakor besok (hari ini, Kamis (12/11)," ujar Uga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis Odang R Wijaya SH mengatakan data kerusakan belum diketahui jumlah pastinya. "Masih didata petugas di lapangan," uajrnya. (sta)
CIAMIS (SI) – Sekitar 104 rumah di Desa Sindangasih,Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, rusak dihantam angin puting beliung sekiar pukul 16.00 WIB kemarin.
Menurut Kepala Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Ahmar, jumlah rumah yang rusak masih sementara.“Kemungkinan besar bertambah,sebab masih banyak yang belum terdata,” ujar Amar kepada Seputar Indonesia kemarin. Amar menyebutkan,sebanyak 104 rumah yang rusak itu tersebar di tiga dusun yakni Dusun Pangarengan, Cimantek, dan Gunung Damar. Ketiga dusun tersebut masih berada di wilayah Desa Sindangasih. “Adapun perincian rumah yang rusak terdiri dari 4 rumah hancur, 5 rumah rusak berat dan sisanya rusak sedang dan ringan,”katanya.
Amar menambahkan,keempat rumah hancur total yang tidak bisa dihuni lagi,yakni rumah milik Edi, 48; Sudi, 50; Miftahudin, 45; dan Samigih, 49. Untuk sementara waktu, keempat KK yang rumahnya hancur terpaksa diungsikan ke rumah saudara mereka dan tetangga terdekat. “Untuk penanganan sementara, sejak pagi tadi (kemarin) beberapa rumah yang rusak ringan dan berat,sudah mulai diperbaiki warga sekitar. Kami sudah mengintruksikan agar warga yang tidak terkena bencana ikut gotong-royong membantu rumah warga lain yang rusak.
Selain itu, kami juga sudah melaporkan data sementara jumlah rumah yang hancur,” tandasnya. Miftahudin, 45, salah seorang korban warga Dusun Pangarengan RT10/03,Desa Sindangasih mengatakan, saat terjadi angin puting beliung, dirinya bersama sanak keluarga sedang berada di dalam rumah karena di luar rumah sedang hujan. “Awalnya hujan agak kecil, setelah itu hujan membesar disertai angin kencang. Waktu itu kami masih bertahan di dalam rumah,” katanya.
Tidak lama kemudian, lanjut Miftahudin, angin bertiup semakin kencang disertai pohon tumbang, sebagian rumahnya sudah mulai rusak.Miftahudin sekeluarga akhirnya memutuskan keluar rumah saat rumahnya hampir ambruk. “Ternyata benar, tidak lama kemudian rumah kami ambruk, hancur setelah tertimpa pohon tumbang. Saat angin berlangsung, terlihat dedaunan berputar di atas rumah disertai suara bergemuruh,” paparnya.
Kapolres Ciamis AKBP Agus Santoso melalui Kabag Binamitra Polres Ciamis Kompol Yudi Saprudin membenarkan telah terjadi angin puting beliung yang menimpa tiga dusun di Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari. “Laporan sementara jumlah rumah yang rusak tercatat 104 rumah, sedangkan rumah hancur terdapat 4 unit. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta,”katanya. Selain di Banjarsari, rumah rusak akibat nagin juga terjadi di Desa/Kecamatan Langensari,Kota Banjar.
Sebuah rumah milik Encum, 62, dilaporkan rusak berat setelah tertimpa pohon tumbang saat berlangsung angin kencang disertai hujan deras sekitar pukul 16.30 WIB, pada Rabu (11/11) sore. Hingga siang kemarin, rumah korban belum bisa ditempati seperti semula,sejumlah warga bergotong- royong membantu memperbaiki rumah Encum agar bisa ditempati kembali. (ujang marmuksinudin)
Kamis, 12 November 2009 10:59 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 416 kali
Ciamis, (ANTARA News) - Angin puting beliung yang terjadi pada Rabu sore (11/11) merusak ratusan rumah warga di desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Kepala desa Singangasih, Ahmar, di lokasi kejadian, Kamis mengatakan peristiwa angin puting beliung yang disertai hujan lebat membuat rumah warga rusak berantakan.
"Banyak rumah warga yang rusak, dari data yang telah kami catat mencapai 104 rumah," katanya.
Ia menjelaskan rincian dari kerusakan rumah warga yakni empat mengalami rusak berat dan roboh, dan 100 rumah mengalami rusak ringan dan sedang.
Kerusakan tersebut terjadi di tiga dusun yakni dusun Cimente mengalami kerusakan sebanyak delapan rumah warga, dusun Pangarengan 66 rumah dan dusun Gunung Damar 30 rumah.
"Mungkin masih ada lagi rumah warga yang rusak akibat puting beliung, dan kami sekarang masih melakukan pendataan," katanya.
Sementara itu, peristiwa tersebut kata Ahmar kali pertama terjadi di desa Sindangasih yang terjadi begitu cepat dan membuat panik penduduk yang melihat langsung kejadian tersebut.
Bahkan ketika terjadi puting beliung dan hujan lebat penduduk setempat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari kondisi rumah yang hampir roboh.
"Saat kejadian itu warga keluar rumah, karena melihar kondisi rumah akan roboh," katanya.
Puting Beliung Rusak Ratusan Rumah Warga di Ciamis
Kamis, 12 November 2009 11:23 WIB
Ciamis, (tvOne)
Angin puting beliung yang terjadi pada Rabu sore (11/11) merusak ratusan rumah warga di desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Kepala desa Singangasih, Ahmar, di lokasi kejadian, Kamis mengatakan peristiwa angin puting beliung yang disertai hujan lebat membuat rumah warga rusak berantakan. "Banyak rumah warga yang rusak, dari data yang telah kami catat mencapai 104 rumah," katanya.
Ia menjelaskan rincian dari kerusakan rumah warga yakni empat mengalami rusak berat dan roboh, dan 100 rumah mengalami rusak ringan dan sedang.
Kerusakan tersebut terjadi di tiga dusun yakni dusun Cimente mengalami kerusakan sebanyak delapan rumah warga, dusun Pangarengan 66 rumah dan dusun Gunung Damar 30 rumah. "Mungkin masih ada lagi rumah warga yang rusak akibat puting beliung, dan kami sekarang masih melakukan pendataan," katanya.
Sementara itu peristiwa tersebut kata Ahmar kali pertama terjadi di desa Sindangasih yang terjadi begitu cepat dan membuat panik penduduk yang melihat langsung kejadian tersebut.
Bahkan ketika terjadi puting beliung dan hujan lebat penduduk setempat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari kondisi rumah yang hampir roboh. "Saat kejadian itu warga keluar rumah, karena melihar kondisi rumah akan roboh," katanya.
Sementara itu kata Ahmar pasca peristiwa puting beliung, warga yang rumahnya mengalami kerusakan membereskan puing-puing material bangunan yang berserakan dibantu warga lainnya dan aparat desa dan kecamatan setempat. "Saat ini warga secara bergotong royong sedang membereskan rumahnya masing-masing," katanya. (Ant)
Jakarta – Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus) Pusat Adang Daradjatun, menegaskan generasi muda Sunda wajib menunjukkan kemampuan menjadi pemimpin di setiap organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Adang, ketika menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda VII di Wisma Kujang, Cikampek, Senin (2/10). “Anak-anak muda Sunda harus berani mengemban tugas dan tanggung jawab besar menjadi pemimpin di setiap organisasi. Dengan menjadi pemimpin maka kemampuan akan terasah dalam menyelesaikan berbagai masalah dan memimpin organisasi,” tutur Adang di acara yang digelar oleh Gerakan Masyarakat (Gema) Jawa Barat.
Adang menambahkan, dia tidak menginginkan generasi muda saat ini, hanya mau menerima saja. Namun juga harus juga menunjukkan kemampuan, dengan menciptakan inovasi di berbagai bidang. Sehingga kemampuang urang Sunda, akan semakin banyak muncul di tingkat nasional dalam memberikan kontribusi kepada bangsa dan Negara.
Selain itu, Adang yang juga anggota DPR RI ini menjelaskan, langkah dalam memupuk kepemimpinan adalah dengan menyiapkan diri berorganisasi mulai dari organisasi di tingkat lokal hingga nasional.
“Misalnya bagaimana menjadi ketua di Karang Taruna tingkat RT, seperti RT 6, maka kemudian di situ Andaharus bisa menunjukkan kemampuan dalam menciptakan kegiatan-kegiatan,” tambahnya.
Selain itu, memiliki visi dan strategi, kemudian dengan disiplin menerapkannya dalam tindakan nyata. Hal itu menjadi jalan pembuka dalam mencapai hasil yang diharapkan dari visi yang ada di pribadi seorang pemimpin.
“Memang tidak akan mudah dalam menerapkan visi dengan disiplin, akan banyak halangan, namun bila konsisten maka akan terwujud,” tuturnya.
Peserta Antusias
Dalam sesi kepemimpinan nasional yang dipresentasikan oleh Ketua Umum PABBSI ini, para peserta begitu antusias berdialog. Dari empat sesi tanya jawab yang dilemparkan, para peserta saling adu cepat mengacungkan tangan untuk bertanya. Pertanyaan yang beragam dari masalah kepemimpinan nasional hingga peran politik Adang di kancah politik nasional.
CIAMIS - Walikota Banjar dr.H. Herman Sutrisno, menyatakan pihaknya siap untuk menerima keinginan sejumlah kecamatan di Kab. Ciamis yang berdekatan dengan Kota Banjar untuk bergabung dengan Kota Banjar.
Dengan syarat, keinginan tersebut ditempuh dengan serius dan tentunya tidak melanggar aturan hukum yang sudah berlaku. "Selama daerah-daerah itu ingin bergabung dengan Kota Banjar secara serius dan tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku kami akan menerimanya dengan lapang dada, ujar Herman, kemarin.
Dijelaskannya, mencuatnya wacana sejumlah wilayah yang berbatasan dengan wilayah hukum pemerintahan Kota Banjar, kini kian terasa, setelah rencana pembentukan Kabupaten Pangandaran, yang akan memisahkan diri dari Kab. Ciamis, yang semakin mendekati final. "Jika sampai wilayah-wilayah yang mau bergabung dengan Kota banjar sampai benar-benar terbukti dimasa mendatang, kami berharap pemerintahan berpusat di Kota Banjar, jelasnya.
Ditegaskannya, wacana keinginan untuk bergabung denga Kota Banjar, sempat dibicarakan beberapa wilayah pemerintahan kecamatan yang berada di sekitar Kota Banjar seperti: Kec. Lakbok, Kec. Banjarsari, Pamarican , Cimaragas dan Kec. Cisaga. Sementara itu Ketua Forum Peduli Masyarakat Lakbok (FPML) mengaku merasa puas dengan adanya respon positif dari Wali Kota Banjar.
Hal senada juga diungkapkan H. Dedi Sobandi mantan Bupati Ciamis, periode 2008-2009 menyebutkan dari pada bergabung dengan Pangandaran lebih baik bergabung dengan Kota Banjar. " Masyarakat Kec. Banjarsari berharap untuk bergabung dengan Kota Banjar, karena ke Ciamis jaraknya cukup jauh, apalagi ke Pangandaran , mundur kebelakang, maka lebih baik bergabung dengan Kota Banjar saja" pungkasnya. (asep)
Candi Ronggeng yang di kalangan arkeolog dikenal sebagai Candi Pamarican, terletak di Kampung Sukawening, Desa Sukajaya. Disebut Candi Pamarican karena lokasi candi tersebut terletak di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Candi Ronggeng dibangun di dataran subur lembah Kali Ciseel, salah satu anak Sungai Citanduy. Situs tersebut secara administratif berada di Kampung Kedung Bangkong, Dusun Sukamaju, Desa Sukajaya. Situs Candi Ronggeng berada pada koordinat 29'36,7'' BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin)°25'46,9'' LS dan 108°07 dengan ketinggian 34 m di atas permukaan laut. Situs berada pada lahan datar yang digunakan sebagai kebun oleh penduduk. Tanaman yang terdapat di lahan tersebut di antaranya adalah kelapa, bungur, sengon, mahoni, dan pisang. Di sebelah utara situs berjarak sekitar 50 m terdapat aliran Sungai Ciseel. Di antara situs dengan sungai terdapat tanggul tanah dengan lebar sekitar 4 m. Sekarang pada lahan situs tidak terdapat adanya tinggalan. Menurut informasi di lahan tersebut pada kedalaman sekitar 1,5 m terdapat susunan batu-batu candi. Di lokasi ini juga pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang disimpan di Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Pamarican. Berikut pemerian arca tersebut.
Sebutan Candi Ronggeng mempunyai kaitan erat dengan legenda setempat tentang kesenian ronggeng gunung yang merupakan kesenian rakyat daerah selatan Ciamis. Konon Dewi Siti Samboja yang ingin membalaskan kematian kekasihnya, Raden Angga Larang yang gugur di medan perang, menyamar menjadi penari ronggeng. Bersama para pengikutnya yang menyamar menjadi penabuh gamelan (alat musik pengiring) sering menggelar pertunjukan Ronggeng Gunung dalam upaya mencari pembunuh kekasihnya. Menurut masyarakat setempat, di lokasi candi, terutama pada hari-hari tertentu, sering terdengar suara gamelan yang terdengar seperti musik pengiring pertunjukan ronggeng.
Reruntuhan candi pertama kali ditemukan pada tahun 1977 melalui survai yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Reruntuhan yang ditemukan berupa Arca Nandi dan batu berbentuk kenong (gong kecil, instrumen musik tradisional Sunda). Salah satu keunikan Candi Ronggeng adalah bahwa Nandi, kendaraan Syiwa, bukan digambarkan dalam bentuk arca sapi jantan melainkan arca sapi betina. Adanya Arca Nandi ini menunjukkan bahwa Candi Ronggeng berlatar belakang agama Hindu, sehingga diperkirakan mempunyai kaitan dengan Kerajaan Galuh (abad ke-7 sampai abad ke-16 M). Pusat Kerajaan Galuh diyakini terletak di Kawali, kota kecamatan yang letaknya sekitar 10 km arah utara kota Ciamis.