Ponari Bocah Ajaib Yang Mampu Mengobati Penyakit, Katanya..............!


Siapa sih yang tak kenal Ponari? seorang bocah kecil yang baru saja kelas 3 SD. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari seorang Muhammad Ponari, 10, warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh. Ia adalah bocah kelas 3 SD dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya, Kasim, 38, dan Mukaromah, 28, hanya bekerja sebagai buruh tani. Namun akhir-akhir ini, Ponari mendadak jadi pusat perhatian. Setiap hari, ratusan warga terus berdatangan ke rumah bambu milik orang tuanya. Usut punya usut, beredar kabar bahwa Ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Cara pengobatannya pun cukup unik. Pasien cukup meminum air putih dari rendaman sebuah batu merah pipih sebesar kepalan tangan. Praktis, batu yang ditemukan secara tidak sengaja itu dipercaya sebagai batu bertuahtapi mempunyai suatu kelebihan yaitu bisa mengobati penyakit, katanya.........! dan banyak yang setelah berobat kepadanya penyakitnya berangsur-angsur membaik.
Tak ayal setelah banyak orang yang berobat kepadanya, lalu banyak media yang menyorotinya karena ini adalah suatu fenomena yang menarik untuk diangkat oleh media. Ketika saya lihat liputannya di salah satu Televisi Swasta ribuan orang mengantri untuk mendapatkan pengobatan alternatif yang dimilikinya. Ponari dengan raut mukanya yang sepertinya tidak mengerti sambil digendong oleh seseorang, saya tidak tahu apakah orang tuanya ataukah bukan, Ponari mencelupkan batu ajaibnya ke gelas-gelas berisikan air yang dibawa oleh para pasiennnya. Ponari hanya menggunakan media batu itu saja tanpa membaca jampi-jampi taupun ritual khusus lainnya, sementara yang dilakukannya adalah sibuk dengan smsnya.
Melihat fenomena ini, harus kita lihat terbuka. Disatu sisi Ponari memang memiliki kelebihan untuk mengobati penyakit dengan batu ajaibnya, sekali lagi mengobati bukan menyembuhkan karena yang bisa menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT. Namun disatu sisi lain Ponari juga adalah anak kecil yang masih harus menikmati masa-masa kecilnya. Ponari butuh pendidikan, butuh bermain dengan lingkungan teman-temannya layaknya usia teman sebayanya. Ponari jangan terlalu dieksploitasi. Tentunya dengan adanya kejadian seperti Ponari ini saya yakin semua masyarakat bisa membuka mata untuk mencari solusi terbaik agar Ponari mampu bermain dengan teman-temannya, kembali sekolah, dan ponari pun bisa kembali membantu para pasiennya.
Untuk mengetahui siapa Ponari itu sebenarnya silahkan baca artikel yang saya dapatkan dari TRIBUN BATAM ini:

POLISI terpaksa menutup rumah kecil di Dusun Kedungsari Desa Balongsari Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mulai Senin (2/2) kemarin. Pintu rumah tersebut dipasangi palang dengan kayu dan diberi pengumuman agar warga tidak datang lagi ke rumah itu untuk berobat. Pintu jalan ditutup oleh sejumlah pemuda sehingga tidak seorang pun yang bukan warga dusun bisa masuk.

Langkah itu terpaksa dilakukan oleh Polres Jombang karena ribuan orang terus mengalir ke rumah kecil tersebut meskipun harus berdesak-desakan. Bahkan, niat mereka yang keras untuk berobat ke rumah itu, justru tanpa memperhatikan keselamatan mereka sendiri. Puncaknya, Minggu (1/2), dua orang tewas terinjak-injak akibat banyaknya massa yang datang.

Itulah fenomena dalam sepekan terakhir di rumah Muhammad Ponari yang tiba-tiba saja santer menjadi pergunjingan warga Jombang. Ponari bukanlah ahli medis atau tabib yang mengerti tentang penyakit atau obat-obatan. Ia hanya seorang bocah berumur 9 tahun dan masih duduk di kelas 3 sekolah dasar.

Tetapi, Ponari dipercaya sebagai bocah sakti yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit hanya dalam sekejap.

Kapolres Jombang, AKBP Moh Khosim mengatakan, pihaknya sudah membujuk Ponari mau memindahkan tempat praktiknya ke balai desa setempat karena gang menuju rumah orangtua Ponari sangat sempit, namun bocah itu menolak.

Akhirnya, polisi menutup tempat praktik tersebut sampai gang ke rumah tersebut diperbaiki. “Kita tidak mau mengambil risiko,” kata Khosim, seperti dikutip Surya, grup Tribun di Surabaya.

Suasana di Dusun Kedungsari yang awalnya sepi memang bak pasar induk. Orang-orang terus mengalir, kendaraan semrawut dan macet sementara jalan tanah di dusun tersebut hanya boleh dikatakan sebuah gang. Jalan desa berlumpur dan penuh kubangan-kubangan karena banyaknya orang yang datang.

Namun demikian, sejak Ponari jadi dukun, kehidupan di sana berubah dengan cepat. Para pemuda dan masyarakat di sana menjadi petugas yang mengatur membludaknya massa yang datang. Orang yang datang memang perlu diurus dengan baik karena mereka umumnya memang mengalami berbagai macam penyakit. Mulai dari penyakit ringan hingga berat. Bahkan ada yang lumpuh dan terpaksa digotong keluarganya ke rumah Ponari.

Ponari, bocah sakti mandraguna itu, menurut sejumlah warga, memang sakti, meskipun tidak semua orang bisa bertemu dengannya. Keluarga Ponari juga menghalangi wartawan yang ingin mengambil foto bocah itu.

Batu ajaib
Konon, Ponari mendapat kesaktian setelah tertembak petir saat hujan deras, dua bulan lalu. Tubuhnya lemah. Namun yang ajaib, di kepala bocah itu tertempel sebuah batu sebesar telur ayam berwarna kuning. Batu itulah yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

Atas saran kakeknya, batu tersebut pun dibuang. Namun, batu itu kembali lagi. Peristiwa itu berlangsung sampai tiga kali sampai akhirnya keluarga meyakini batu itu memiliki khasiat.

Batu itu kemudian dicelupkan dan airnya diminumkan kepada Ponari. Ajaib, ia langsung sembuh. Ketika dicobakan kepada anggota keluarga lain yang mengalami sakit, mereka langsung sehat.

Kabar itu pun menyebar. Menurut kepala desa setempat, Nilaretno, sudah dua minggu terakhir ini rumah Ponari selalu didatangi warga yang ingin berobat. Apalagi, Ponari tidak menerapkan tarif bagi pasiennya, “Ada beberapa orang yang lumpuh bisa sembuh,” kata Nilaretno.

Namun, ribuan warga yang datang untuk berobat sejak subuh, kemarin, terpaksa gigit jari karena tempat praktik itu ditutup setelah meninggalnya Rumiadi (58) asal Kediri dan Nurul Miftadi (42), Minggu lalu. Keduanya meninggal akibat kelelahan berdesak-desakan dengan ribuan warga yang ingin berobat kepada dukun kecil itu.

Hanya saja, para pasien dari berbagai pelosok tentunya tidak tahu kalau klinik Ponari ditutup. Mereka hanya terlihat sedih saat dicegat sejumlah pemuda yang mengaku panitia pengobatan Ponari. Pemuda-pemuda itu mencegah pengunjung masuk dengan alasan gang masih dipasangi paving block sepanjang 50 meter, sehingga pengobatan untuk sementara dihentikan. “Kalau perbaikan sudah selesai, pengobatan akan dilakukan lagi,” kata Wanto, seorang panitia.

Wanto kemudian memberikan nomor ponselnya untuk pengunjung yang ingin meminta informasi kepastian Ponari praktik lagi. Apa boleh buat, mereka tidak bisa berobat, hanya mendapatkan nomor ponsel Wanto.

Muhajir, warga Nganjuk, mengaku kecewa tidak bisa berobat. “Jauh-jauh dari Nganjuk saya bermaksud mengobati ibu saya yang sudah bertahun-tahun sakit asma,” kata Muhajir.

Wanto mengatakan, perbaikan jalan dusun itu akan dibiayai dari penghasilan parkir kendaraan yang dikelola pihak panitia selama ini. Tetapi dia tidak bisa merinci perkiraan jumlah biaya yang dibutuhkan.

Dia menjamin tidak mengambil isi kotak amal yang disumbangkan pasien untuk Ponari.

“Kotaknya hingga sekarang belum dibuka. Itu hak Ponari dan keluarganya,” kata Wanto. Selama ini Ponari setiap mengobati pasien menolak dibayar banyak. Dia hanya mau menerima rata-rata Rp 2000, yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak khusus. (surya/tim)


1 comment

Hypercahaya 16 Februari 2009 02.18

Ketika Allah mau, maka suatu yang tidak mungkin menurut logika bisa saja terjadi. saya pun menulis tentang Ponari dalam sisi yang berbeda melalui www.versus-versi.blogspot.com

Khalili Anwar

Posting Komentar